Perjalanan Impian I: Apa Yang Kamu Kejar?
adalah pertanyaan yang selalu terlintas setiap kali kepala melanglang buana entah ke mana, memikirkan langkah hidup selanjutnya.
Perkenalkan aku Shaharani, orang-orang biasa memanggilku Shaha. Saat ini alhamdulillah aku sedang menempuh pendidikan tingkat 4 di Asahikawa College of Technology (旭川工業高等専門学校), Hokkaido, Jepang, jurusan Materials Science and Chemical Engineering (物質化学工学).
Susah? Iya. Untuk seseorang yang belum pandai berbahasa Jepang, belajar formal di kelas reguler mereka cukup melelahkan. Tapi itulah hidup, bukan?
Banyak momen di mana aku menyalahkan 'bahasa', berkali-kali bilang pada diri sendiri "andai saja ini dalam bahasa Indonesia, pasti aku mampu melewatinya dengan baik dan mudah."
Tapi apakah iya? Apakah dulu saat aku belajar di Indonesia aku mampu melewati prosesnya dengan mudah? Tidak juga, sama-sama sulit, bahkan jauh lebih sulit karena saat itu aku masih belum mengenal Sang Pencipta.
Jadi ini bukan masalah bahasa, memang begitulah fitrah dunia, tempatnya bersusah payah.
Setelah satu tahun belajar bersama orang Jepang, aku sungguh terkejut dengan kebiasaan hidup mereka, ternyata statement 'gila kerja' itu bukan isapan jempol semata.
Saat di Indonesia aku sering mendengar orang menyebutku 'ambis', 'workaholic', 'gila belajar', tapi setelah datang ke sini, aku merasa gak ada apa-apanya kalau dibandingkan orang lain.
Faktanya banyak pelajar Indonesia yang jauh lebih giat belajarnya. Tapi di atas itu, ada orang Jepang yang SANGAT AMAT KERAS usahanya. Terkadang saat melihat bagaimana mereka mempersiapkan segala hal, membuatku berpikir selelah apa 24 jam waktunya difokuskan untuk menata kehidupan.
Pola hidup seperti itu juga sedikit banyak mempengaruhiku, terutama mental, aku merasa seperti ada pressure tersendiri untuk menjadi seperti mereka, merasa tidak mengoptimalkan waktu dengan baik kalau jam belajarku tidak sebanyak mereka, which is impossible.
Impossible bukan karena malas, tapi sebagai seorang muslim, kita punya prioritas yang berbeda.
Aku juga masih belajar pola hidup seperti ini, tapi sebagai seseorang yang beriman, kita harus lebih condong pada ibadah.
Belajar science pun ibadah, tapi di atas itu ada shalat yg harus diutamakan dan Al-Quran yang harus diprioritaskan, dari ilmu apapun.
Bangun tidur, siang hari, masuk petang, bertemu malam, sampai tidur lagi, hati dan pikiran kita harus terpaut pada Allah semata. Kuliah, kerja, dan kegiatan lainnya pun harus dijadikan sebagai jembatan agar bisa mengerjakan amal shaleh lainnya.
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
Itulah tujuan utama kita hidup di semesta ini, beribadah kepada Allah.
قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
Kalimat yang sering kita ikrarkan ketika shalat, hidupku hanya untuk Allah.
Bayangkan betapa tentramnya kita jika mampu menjadikan itu bukan hanya sekadar ucapan, tapi prinsip hidup yang terpatri sampai dunia ini kita tinggalkan.
Such an ideal life, isn't it?
Tapi seperti yang aku bilang sebelumnya, aku pun masih belajar menerapkan pola hidup seperti itu sehingga masih sering kekhawatiran tentang dunia mengambil alih hati dan pikiranku.
Seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya saat aku tidak mengerti apapun di kelas -alih-alih berusaha mengerti apa yang sensei sampaikan, pikiranku justru melayang melanglang buana-, habis ini ngapain, ya? Mulai belajar buat test univ kapan, ya? Kok kayak gk sempet terus, ya? Lagian aku mau masuk mana, sih? Tapi bisa lanjut sarjana, gk, ya? Kalau gk bisa lanjut harus ke mana, ya? Kalau pulang ke Indonesia jadi apa, ya? Tapi aku masih belum pengen pulang, tapi sekarang aja sensei ngomong apaan juga gk tau, gimana di univ? Atau kerja? Tapi belum pengen kerja lagi, kalaupun kerja, di mana? Kerja di sini? Hm. Tapi kalo gk di sini, terus di mana? Kalaupun di sini, gimana?
Dan habislah jam pelajaran hanya dengan memikirkan hal-hal yang belum tentu kejadian.
Pulang ke asrama kepalaku penuh dengan segala jenis pertanyaan.
Lalu terlintaslah pertanyaan itu, sebenarnya apa yang kamu kejar?
Teguran yang membuat semua kekhawatiran menjadi tidak berarti.
__________________________________________________
Ternyata aku sedang terbawa arus sekitar, sibuk menata rapi konsep kehidupan sampai aku lupa bahwa jalan aku dan mereka tidaklah sama. Sejak kapan semua urusan harus aku yang menentukan? Sejak kapan aku bersandar pada diri sendiri seperti ini?
Kita ulangi lagi pertanyaannya, apa yang kamu kejar?
Sekuat itukah tipu muslihat dunia sampai-sampai kepalamu dipenuhi olehnya? Bukankah prinsipnya adalah biarkan fisikmu yang bekerja tapi hatimu bertawakkal? Di mana, kah, konsep tawakkal itu sekarang?
Kalau yang kamu kejar adalah kebanggaan, harta berlimpah, ilmu yang luar biasa tinggi, posisi yang dilihat manusia, pengakuan dunia, maka kejarlah, dan lihatlah bagaimana semuanya akan tercerai berai, sia-sia tak berguna.
Tapi jika kamu mengejar ridha-Nya Yang Maha Kuasa, maka tenanglah. Cukuplah tanganmu saja yang berusaha, jangan sampai jiwamu terseret arus dunia.
Di manapun Allah menempatkanmu akhirnya, itulah yang terbaik untukmu pastinya. Kampus A kah, kampus B kah, bahkan gk bisa lanjut sekalipun, atau justru kerja di belahan bumi manapun jua, kalau kamu benar mempercayai keputusan-Nya, maka seharusnya kamu merasa tenang, bukan?
Takut, khawatir, cemas, adalah hal-hal yang lumrah terjadi. Tapi semua itu harus dilawan dengan mencari perlindungan Allah, karena kecemasan berlebihan adalah was-was dari setan.
Setan akan membuat kita terus menerus menyesali masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan sampai-sampai kita tidak punya waktu mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan.
Aku sempat membaca kalimat yang cukup menggugah jiwa, 'Jangan kecilkan nikmat Allah.'
Hanya karena kita punya masalah dan kekhawatiran, jangan sampai merasa hidup kita semuanya kesulitan. Ingat kembali setiap nikmat yang Allah berikan dan fokuskan hati kita untuk mensyukurinya.
Selagi kita sudah berjalan di jalan yang benar, insyaAllah semua pasti baik-baik saja.
Semoga di usia yang sudah semakin dewasa ini, kita semakin diberikan ketenangan jiwa, ditunjukkan jalan yang benar untuk mendekat kepada-Nya, di manapun kita berada, aamiin Allahumma aamiin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Asahikawa, 24 April 2025 10.26 waktu setempat


Alhamdulillah.. Membaca pengalaman Sasha dari mulai part 1 hingga part 3 untuk masuk SMAKBO hingga saat ini mendapatkan beasiswa fully funded dari MEXT Japan begitu mengesankan dan membuat anak pertama saya juga saat ini sedang berjuang untuk masuk SMAKBO 2025.. Alhamdulillah saat ini sudah lulus jalur mandiri (sebelumnya tidak lulus si jalur prestasi krn bersaing dengan 1690 siswa/siswi lainnya saat pendaftaran 2025 ini dan hanya diterima 71 orang).. Mohon doanya agar anak pertama saya lulus saat nanti daftar ulang & test wawancara pada tgl 14 Mei 2025 dan pengumuman kelulusan tgl 19 Mei 2025... Amin ya rabbal alamin..
BalasHapus