Perjalanan Impian I: Proses Seleksi MEXT Scholarship, Japan
Setiap hal punya cerita, seorang penulis hanya perlu melihatnya dari sudut pandang yang spesial.
Begitulah kira-kira kutipan dari salah seorang penulis favoritku, Tere Liye.
Tulisan ini mungkin tidak akan seindah untaian kata Tere
Liye, namun aku harap kisah sederhananya mampu memberikan inspirasi dan manfaat
untuk para pembaca, untuk mereka yang sedang bingung bagaimana caranya
mewujudkan angan dan cita-cita di tengah keterbatasan yang ada. Dan untuk
diriku sendiri di masa depan yang mungkin akan galau dengan banyaknya impian
namun terjerembab dalam keadaan.
⧭⧭⧭
Namaku Shaharani, aku tumbuh di pinggiran kota dengan segala
keterbatasan yang ada. Walaupun duniaku nampak seperti gelembung kecil, tapi
impianku tak terkira besarnya. Jika kalian tahu isi hati dan kepalaku, mungkin
aku akan menjadi manusia paling imaginer yang kalian temui.
Bukan visioner, ya, imaginer.
Mereka yang visioner mampu melihat jalan yang ada di depan sana, lalu menyiapkan langkah demi langkah untuk bisa sampai tujuan. Sedangkan aku? Aku hanya tahu apa yang aku inginkan, langkah untuk sampai di sana? Aku tidak tahu. Pun begitu dengan cerita ini.
⧭⧭⧭
Tahun 2015 aku bertemu seorang wanita paruh baya di salah satu rumah sakit yang ada di pusat kota, saat itu aku mengenakan seragam SMP.
Wanita
itu menyapaku dan bertanya ke mana aku akan melanjutkan SMA, aku menjawab,
“SMAKBO” salah satu sekolah analis kimia terbaik negeri ini, sekolah impianku
sejak kecil.
Ia lalu bercerita perihal saudaranya yang juga bersekolah di
SMAKBO, “saudara saya juga ada yang sekolah di SMAKBO, setelah lulus dia dapet
beasiswa ke Jepang. Anaknya gak pinter-pinter amat, dia juga gak bisa Bahasa
Jepang sama sekali. Bulak-balik kedubes buat daftar, eh lolos. Semuanya
dibiayain beasiswa, dapet uang saku, malah masih bisa ngirim (uang) juga ke
orang tuanya tiap bulan.”
Aku berdecak kagum.
Wah, ternyata ada ya beasiswa ke luar negeri yang fully funded dan bahkan ada sisa banyak sampai bisa ngirim ke orang tua. Tidak terlalu pintar dan tidak bisa Bahasa Jepang sama sekali tapi lolos. Fix, aku pun punya kesempatan.
Sejak saat itu impian untuk bisa kuliah ke luar negeri terpatri dalam pikiranku. Aku ingin kuliah ke luar negeri, aku ingin belajar dan membantu orang tua, meskipun aku tidak tahu bagaimana caranya.
Setelah masuk SMAKBO, banyak negara yang ingin aku jadikan
tempat belajar, Inggris, Amerika Serikat, Jepang, dan Mesir.
University of Oxford, the oldest university in the
English-speaking world; Harvard, one of the most prestigious; MIT
(Massachusetts Institute of Technology), played a key role in the development
of modern technology and science; UTokyo, one of the top global university,
plus Japan, where technologies grow rapidly; and last but not least, Egypt with
their Al-Azhar University, the chief centre of Arabic literature and Islamic
learning.
Tempat-tempat mengagumkan dengan segala kemasyhuran dan
reputasi baiknya. Hanya dengan memikirkan tempat-tempat itu saja aku bisa
menitikan air mata.
Bukankah Allah Maha Baik? Sang Pemilik Ilmu, sumber dari segala pengetahuan, mau memberikan sebagian kecil keagungan ilmunya kepada manusia, dan menjadikan manusia mulia dengan itu.
Hari demi hari aku hanya berharap
Allah mengizinkan aku yang bodoh ini agar mendapat kepantasan untuk memperoleh
ilmu pengetahuan yang Ia limpahkan.
⧭⧭⧭
Singkat cerita di tahun 2020 aku lulus dari SMAKBO dan menemukan salah satu website mengenai beasiswa fully funded ke Jepang, Monbukagakusho/MEXT Scholarship namanya, beasiswa dari Kemendikbud-nya Jepang.
MEXT Scholarship merupakan bentuk persahabatan Jepang kepada negara-negara yang
bekerja sama dengannya, salah satunya adalah Indonesia.
Beasiswa ini cukup dikenal di Indonesia, peminatnya pun
sangat banyak. Untuk jenjang D2, D3, dan S1 saja pendaftarnya mencapai kurang
lebih 6000 peserta (masing-masing sekitar 2000 pendaftar), dan yang lolos
sampai tahap akhir tidak menentu jumlahnya, ada tahun yang hanya meloloskan 11
peserta, ada yg sampai 60 peserta. Namun, tahun-tahun terakhir ini hanya sekitar
20-30 peserta yang lolos.
Dengan hanya melihat statistiknya saja aku sudah mengaduh, dari
6000 pendaftar, tidak sampai 50 orang yg lolos, persentasenya hanya 0.5%
Beban statistik itu sudah cukup memberatkan kepalaku, belum ditambah faktor kemampuanku yang tidak seberapa.
Tapi di tengah
ketidakpercayaan diri yang melanda, aku tetap mendaftar.
⧭⧭⧭
Tahun 2020, sambil kesulitan beradaptasi dengan tempat kerja
pertamaku, aku hilir mudik sana sini mengurusi dokumen pendaftaran.
Aku mendaftar untuk program S1 dengan memilih Pharmacy sebagai prodi pertama dan Agriculture sebagai pilihan kedua.
Proses
seleksi terbagi menjadi 4 tahap: seleksi dokumen, tes tulis, tes wawancara, dan
secondary screening (berkas kita selama seleksi di Indonesia akan dibawa
ke Tokyo dan disaingkan dengan peserta dari negara-negara lain).
Di tahun itu jangankan mengkhawatirkan negara lain, tahap pertama saja aku sudah tidak lolos. Gagal total.
Dokumen pendaftaran itu tidak
mampu membawaku menuju tes tulis.
Walaupun gagal, keyakinan untuk bisa sekolah ke luar negeri itu tetap ada, meskipun mungkin bukan Jepang destinasinya, tapi aku selalu berdoa, “ya Allah, Engkau yang paling tahu betapa inginnya aku untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, tolong izinkan diri ini agar bisa mendapatkan kesempatan itu.”
Tahun 2020 kuhabiskan waktu mencari informasi soal beasiswa lain, tapi tidak ada yg menarik fokusku melebihi MEXT Scholarship.
⧭⧭⧭
Tahun 2021 aku memutuskan untuk mencoba kembali MEXT
Scholarship, tapi dasar nasib, tenggat waktu pendaftaran ternyata lebih cepat
dari tahun sebelumnya, dan aku tertinggal, tidak sempat mendaftar. Mungkin
memang belum waktunya.
Namun aku membulatkan tekad untuk mencoba kembali di tahun
selanjutnya.
Masih di tahun 2021, setelah gagal mendaftar, aku memutuskan
untuk mulai mempelajari materi tes tulis. Dengan tekad yang sudah bulat dan
keinginan yang begitu kuat, aku mencari soal tes tahun-tahun sebelumnya sebagai
referensi belajar.
Aku membuka soal Matematika untuk program undergraduate (S1) dan DUAR!
Aku tahu soalnya tidak mungkin mudah, tapi aku tidak menyangka akan sesulit itu, bahkan sampai mengerti pertanyaannya saja aku tidak bisa.
Entah memang soalnya yang terlalu sulit atau akunya saja yang di bawah
rata-rata. Aku sudah berusaha mempelajari materi dasarnya secara perlahan, tapi
pikiranku buntu, tak sampai dengan maksud dari pertanyaan itu.
Aku tutup buku, secara harfiah.
Saat itu semuanya terasa mustahil, aku yang bahkan tidak mengerti
pertanyaan tes tulis mana mungkin bisa lolos seleksi. Ditambah aku yang
introvert ini tidak mau memberitahu siapapun soal niatku ikut seleksi,
alhasil aku tidak tahu harus bertanya pada siapa.
Tapi lagi dan lagi, keyakinan untuk bisa sekolah ke luar
negeri itu selalu bersemayam, kuat tertanam dalam pikiran, entah bagaimana caranya, aku yakin selagi
Allah mengizinkan, aku bisa berangkat.
Terus menerus menguatkan diri: alam semesta ini saja kecil di mata Allah, apalagi impianku, tidak peduli seberapa tidak mampunya aku, setidak mustahilnya jalan yang aku pilih, jika Allah mengizinkan, apapun bisa terjadi.
Selagi Allah mengizinkan, aku pasti bisa berangkat,
inshaAllah.
⧭⧭⧭
Tahun 2022 aku kembali membulatkan tekad untuk mendaftar MEXT Scholarship, masih dengan zero knowledge dan ketidaktahuan tentang apa yang harus aku lakukan agar bisa lolos seleksi.
Aku tidak tahu bagaimana
caranya berusaha.
Seiring berjalannya waktu, semangatku perlahan meredup, kepercayaan diriku yang membara mulai dipadamkan oleh fakta yang ada.
Apa aku mampu melalui ini semua?
Ora et labora, berdoa sambil berusaha. Prinsip yang aku pegang teguh sejak lama. Tapi yang bisa kulakukan saat itu hanya berdoa.
Berusaha?
Bagaimana caranya?
Aku hanya bisa berdoa, berdoa, dan terus berdoa, “ya Allah, diri ini sangat amat ingin kuliah ke luar negeri, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu bagaimana caranya berusaha. Apa yang harus aku lakukan, ya Allah?” air mata mulai menetes, kupejamkan mata dan tersadar,
tapi bukankah pada
dasarnya manusia memang tidak tahu apa-apa? Bukankah memang semua pintu usaha
itu Allah yang membuka?
“Ya Allah, dengan segala kasih dan sayang-Mu, tolong bukakanlah jalan bagiku untuk berusaha. Aku, sangat ingin berusaha.”
⧭⧭⧭
Maret 2022, satu bulan sebelum tanggal pendaftaran, aku yang
selalu keep it private tiba-tiba bercerita pada seorang sahabat lama,
Bunga namanya.
Aku bercerita perihal niatku untuk mendaftar MEXT
Scholarship, masih dengan segala kebingungan yang melanda.
Lalu Bunga yang sangat berbeda denganku, extrovert
dengan banyak relasi, menyarankan aku untuk menghubungi Hendy, salah satu siswa
angkatan kami semasa di SMAKBO, karena ternyata Hendy pun berniat mendaftar
beasiswa ini.
Meskipun kami seangkatan, aku tidak pernah mengenal Hendy
secara personal, bertegur sapa pun tidak pernah. Aku hanya tahu Hendy because
he’s just simply a big name. I know he’s gonna reach me after reading
this and say, “engga kok gua gk segitunya” but trust me HE IS THE BEST
STUDENT IN OUR GRADE.
Namanya terpampang setiap tahun sebagai JU (Juara Umum), 4 tahun berturut-turut, yang bahkan aku sempat melihat nilai rata-rata dia itu lebih tinggi dari JU JU lain, termasuk JU kakak tingkat.
Belum lagi keaktifan dia
dalam mengikuti organisasi dan events sekolah, ditambah jam terbangnya
dalam mengikuti lomba akademis sana-sini. Lulus sebagai Bintang Pelajar,
namanya terpahat di pohon kehormatan SMAKBO. Siapa yang tidak kenal Hendy,
bukan?
Untuk teman-teman yang tahu betapa sulitnya mengikuti
pelajaran di SMAKBO, sudah terbayang betapa di luar jangkauannya Hendy ini?
Sedangkan diriku yang hanya remahan rempeyek, apakah punya kepercayaan diri sebesar itu untuk menghubungi Hendy dan meminta bantuan belajar? Tentu tidak.
I know this scholarship is a big deal for everyone, and I know how lack I am, I don’t wanna put more burden on him by being a parasite.
Di satu sisi Bunga terus mendorongku agar menghubungi Hendy,
tapi di sisi lain aku berusaha menjauhkan diri karena tidak ingin membebani.
Selang beberapa waktu, tiba-tiba Hendy menghubungiku
terlebih dahulu, “Assalamualaikum Shaha, mau tanya kata Bunga u mau
daftar MEXT (Scholarship) juga ya?”
⧭⧭⧭
Di momen itu aku seperti merasa Allah sedang berbicara, “I
heard your dua, now I give you the chance to usaha. Take it.”
Masih dengan perasaan takut menjadi seonggok beban, aku
menghela napas panjang dan memberanikan diri untuk mencoba jalan yang sudah
Allah pilihkan.
Bismillah, jika ini adalah jalan yang Engkau inginkan, maka bimbinglah aku agar mampu memberi manfaat kepada mereka yang sudah menjadi perantara-Mu di bumi ini.
Aamiin.
⧭⧭⧭
Ternyata benar, aku hanya menjadi seonggok beban, HAHA.
Hendy yang sudah mengantongi banyak informasi tidak segan untuk membaginya padaku yang tidak tahu apa-apa ini.
Setelah berdiskusi dan
menimbang beberapa kemungkinan, akhirnya aku memutuskan untuk daftar program
D3, karena Hendy saja menganggap soal tes tulis S1 sulit dikejar, apalagi aku.
Baiklah, saat ini fokus untuk D3, masalah S1 nanti bisa
extend, yang penting ke Jepang dulu.
⧭⧭⧭
Proses persiapan dan penyerahan dokumen.
Saat harus legalisir beberapa dokumen ke SMAKBO, Hendy yang memimpin jalan, aku hanya mengekor di belakang. Kami mendapat kemudahan akses dalam mengurus dokumen karena staff dan tim pengajar mengingat Hendy dengan segala memori baiknya.
Begitulah rasanya punya keahlian
bersosialisasi, mendapat banyak bantuan dari sana-sini, beruntunglah aku yang
tidak mampu bersosialisasi ini bertemu dengan Hendy.
Dokumen yang aku persiapkan tahun itu jauh lebih terstruktur
dan enak dibaca ketimbang saat aku mendaftar di tahun 2020, aku
menggeleng dalam hati, menertawakan diri sendiri, mengingat betapa
berantakannya dokumenku dahulu.
Dari 2000 an pendaftar, hanya 114 orang yang lolos seleksi dokumen, dan alhamdulillah, nomor pesertaku disematkan di laman pengumuman.
Nomor Hendy pun ada di sana, tentu saja, bagaimana mungkin tidak, berkas pendaftarannya jauh lebih tebal dari punyaku, berisikan sertifikat lomba dan olimpiade, tak kurang dari 10 sertifikasi.
Sedangkan aku? Tidak perlu ditanya, aku tidak pernah mengikuti lomba atau olimpiade apapun selama di sekolah.
Jadi
jika aku saja lolos seleksi dokumen, apalagi Hendy.
⧭⧭⧭
Proses persiapan tes tulis, momen terberat selama proses
seleksi.
Hendy dengan berbaik hati mau mengajariku, mengulang kembali semua pelajaran yang sudah terkubur dalam ingatan.
Kita Zoom Meeting.
“Coba Shaha lu kerjain dulu sendiri.” Saut Hendy saat kita
melihat soal matematika pertama, pertidaksamaan akar pangkat tiga.
“Emm..” waktu berjalan semenit, dua menit, tiga menit, “gimana
ya, Hen?” aku tidak bisa mengerjakan soal tersebut.
“Itu, lho, yang dulu diajarin bu Adhis.” Aku tau
Hendy mulai gemas dengan ketidaktahuanku.
“Yang mana ya, Hen?” mau bagaimana lagi, aku sungguh tidak
ingat bagaimana caranya.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Hendy di sana, tapi semoga saja
tidak kesal.
Dia akhirnya menuliskan bagaimana cara menyelesaikan soal
tersebut, dan aku mulai mengingat caranya, oh yang itu.
Hal yang lebih parah terjadi pada materi logaritma, matrix, dan
integral, ingatanku sungguh samar meskipun Hendy sudah berusaha menjelaskannya.
Dengan mata terkantuk-kantuk, aku hanya mampu me-record penjelasan dia
selama zoom meeting, dan mengulangnya kembali sembari latihan soal.
Aku yakin Hendy kewalahan mengajariku, di bulan Mei dia menghubungiku,
“Shaha, kayaknya gua mau ngejar materi matematika dulu, gua ngerasa belum
nguasain banget materi-materinya, jadi kalau bahas soal lewat Zoom takutnya gk
kekejar. Sebagai gantinya lu kirim aja soal-soal yang mau lu tanyain nanti kita
bahas di chat aja gimana? Sorry euy.”
Tentu saja tidak apa-apa, aku justru berterima kasih dia mau menghabiskan waktunya selama ini mengajariku.
Yang terpenting aku sudah me-record beberapa materi dan tinggal mendalaminya sendiri. Karena sebenarnya memang begitulah cara belajar yang efektif bagiku, guru akan memberikan materi, dan meskipun aku tidak paham, aku akan mencatat semuanya, lalu mengulang kembali materi tersebut dan mempelajarinya sendiri.
Dan itulah yang aku
lakukan, mendalami catatan-catatan yang Hendy berikan, mengerjakan latihan soal yang
sama berulang kali sampai tidak perlu melihat catatan.
⧭⧭⧭
H-5 tes tulis, kepalaku rasanya mau pecah.
Karena aku sedang off kerja 1 bulan, sudah seminggu
lebih aku belajar intensif, dari jam 9 pagi sampai 10 malam. Bertanya ini itu
pada Hendy, mengerjakan latihan soal secara mandiri, mencari cara efektif yang
mudah aku ingat.
Fyuh aku mengehembuskan napas panjang.
Aku frustasi.
Bukan karena lelah belajar, tapi karena meskipun sudah menghabiskan waktu
sebanyak itu, aku hanya mampu mengerjakan 3 paket soal.
Aku lihat status WA Hendy yang sudah simulasi, 1 paket soal
60 menit, berisi 18 soal matematika, dia hanya salah 3.
Aku terdiam dan lalu menertawakan diriku sendiri. Dia sudah
bisa mengerjakan 1 paket soal selama 60 menit, sedangkan aku, 1 paket baru mampu
diselesaikan 1 hari, itupun masih curi-curi pandang nyontek catatan.
Tidak apa-apa, aku menguatkan diri.
Allah tidak butuh kita
menjadi ‘bisa’, Allah hanya ingin lihat kita 'berusaha', yang penting aku sudah
berusaha semaksimal mungkin, apapun hasilnya nanti, tidak akan ada penyesalan karena
aku sudah berusaha.
⧭⧭⧭
Walaupun begitu, aku tetap menangis.
Meskipun sudah berusaha
meyakinkan diri agar tetap kuat, tapi dengan segala kenyataan yang ada, pikiranku
lelah, hatiku lemah, dan aku menangis semalaman.
Biarlah malam ini aku meluapkan semua beban yang ada, menangis sejadi-jadinya. Esok pagi pikiran dan hatiku akan kuat kembali, pundakku akan tegap kembali, aku akan berusaha kembali. Di sisa waktu yang ada, akan ku kerahkan semua yang aku bisa. Bahkan saat badanku hancur lebur digerogoti rasa takut dan kecemasan, aku akan tetap melangkah, apapun yang terjadi aku harus tetap berjuang.
I wanna see what will Allah decide if I don’t give up.
Aku lanjut belajar.
H-2 tes tulis, aku jatuh sakit.
Aku panik, karena peserta yang sakit dan menunjukkan gejala
covid tidak diperbolehkan mengikuti ujian.
Aku hentikan proses belajar, fokus menyembuhkan diri. Usahaku
sekarang adalah mengistirahatkan badanku, menenangkan pikiranku, menguatkan
hatiku. Bismillah, inilah usaha terbaikku, biar Allah yang putuskan bagaimana
hasilnya nanti.
⧭⧭⧭
Hari ujian telah tiba.
Gedung Kedutaan Besar Jepang di Indonesia terpampang di depan mata, disirami cahaya mentari pagi, bangunan abu-abu dengan arsitektur sederhana ala Jepang itu tampak kokoh berdiri tegak.
Aku melenggangkan kaki, melangkah menuju ruang ujian.
Karena aku mengambil jurusan Kimia, ujianku terdiri atas
Matematika, Kimia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Jepang. Bagi mereka yang
mengambil jurusan lain, soal Kimia diganti menjadi Fisika.
Alhamdulillah di hari itu aku merasa tenang, terlepas dari banyaknya materi yang belum aku kuasai, aku merasa tenang.
Apapun yang terjadi, biarlah
terjadi.
⧭⧭⧭
Soal pertama, Matematika, 18 soal isian singkat, 60 menit.
Bagian pertama terlihat tidak asing, pertidaksamaan akar
pangkat tiga, persamaan logaritma, perhitungan mutlak, baris dan deret, aku
bisa mengerjakannya.
Bagian kedua aku mulai banyak merenung, mengingat bagaimana cara menyelesaikannya.
Limit dan turunan trigonometri.
Mulai bergumam dalam hati, ya Allah ini gimana caranya? Hmm gimana ya, ini diturunin ke sini kali ya, apa ke sini, apa diginin? Ini jadi sin apa cos ya? Ya Allah gimana ini astagfirullah.
Aku tidak yakin dengan
jawabanku di bagian kedua. Tapi mengingat waktu yang terus berjalan, aku tidak
sempat mengeceknya. Banyak soal yang aku isi dengan asal, aku sudah pasrah.
Sampailah di bagian ketiga, aku sudah hilang akal, tertawa
dalam hati, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Integral dan matrix, dengan
kombinasi ln, logaritma natural.
Astagfirullahaladzim ya Allah ini diapain, ini integral
pakai cara parsial atau cara apa ya, cara parsial tuh yang kayak gimana sih,
astagfirullah. Hm mari kita isi, mm apa ya jawabannya, di sini ada angka 3 sama
2, eh ada per nya juga, mm apa ya. 1/e kali ya, apa yang bawah yang 1/e, ini
1/5 kali ya. Yaudah deh gitu aja. Terus soal selanjutnya ini ada ln(e) nya juga,
bismillah e aja deh ya biar cepet, udah tinggal 5 menit lagi.
Begitulah caraku mengisi bagian 3, soal dengan bobot nilai paling tinggi. Mengisi dengan kekuatan ngasal, ditambah soalnya bukan pilihan ganda melainkan isian singkat, jadi jawabanku benar-benar ASAL.
Matematika-ku hancur berantakan.
⧭⧭⧭
Selanjutnya soal Kimia, soal pilihan ganda, alhamdulillah.
Dan alhamdulillah lagi materinya ternyata tidak jauh berbeda
dari latihan soal. Aku mulai menghitung kasar, tidak menggunakan kalkulator,
tinggal pilih jawaban yang mendekati.
Karena begitulah saat latihan. Kita hitung kasar, dapat
angka 40, tinggal pilih yang mendekati dari option. Di option ada
pilihan 63, 45, 12, dan 70, itu berarti jawabannya 45.
Baik, aku mulai menghitung kasar, dapat angka 81.
Tapi ternyata option-nya 81.32 dan 81.75.
Ya Rahman.
Aku menghembuskan napas panjang, bersiap-siap
melakukan teknik capcipcup.
Bismillahirrahmanirrahim ya Allah gak tau deh ini aja
pilihannya.
60 menit berlalu.
Tak jauh berbeda dengan Matematika, aku
banyak mengira-ngira, bedanya ini pilihan ganda, aku jadi tidak terlalu kepikiran.
Selanjutnya Bahasa Inggris, teksnya luar biasa panjang, tapi
alhamdulillah aku merasa sedikit percaya diri dengan bagian ini.
Terakhir, Bahasa Jepang, pilihan ganda, 300 soal, dibagi menjadi 4 bagian.
Kami diberikan waktu 2 jam untuk mengerjakan soal tersebut, namun aku hanya butuh 10 menit untuk menyelesaikan keseluruhan soal.
Bagian
pertama aku silang semua option A, bagian kedua B semua, bagian ketiga C
semua, dan bagian keempat kembali lagi ke A. Aku tidak mengerti apapun soal
Bahasa Jepang, semua dituliskan dalam katakana, hiragana, dan kanji.
Tes tulis selesai.
⧭⧭⧭
Semua peserta berbaris keluar dari Gedung Kedubes.
Sesaat setelah keluar, percakapan para peserta pecah, ramai memenuhi area tunggu.
Hendy
dan teman-teman yang ia kenal berkerumun, terdengar satu dua kalimat, “waduh
Fisika-nya kacau banget, ya, Matematika lancar, nih, gampang, tapi Fisika-nya gila.”
Apa? Matematika gampang?
Aku terduduk lesu di bangku kayu,
diam tidak berucap apapun.
Kalimat Matematika gampang terdengar berkali-kali, aku hanya bisa menyandarkan bahu sambil bergumam dalam hati, ya Allah, matematika gampang katanya.
Aku yang matematika-nya hancur berantakan tidak tahu
harus berkata apa.
Hendy sejak keluar gedung sudah tersenyum mendengar percakapan
teman-temannya, terlihat dari matanya yang menyipit. Pasti matematika pun
gampang baginya. Samar-samar aku dengar dia berucap, “iya paling Kimia, nih,
option jawabannya mirip-mirip, jadi harus beneran dihitung.”
Aku bergumam lagi dalam hati, dia sempat beneran menghitung?
Aku diam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa.
⧭⧭⧭
Hari demi hari aku menunggu hasil tes tulis, 2 minggu
lamanya.
Kugantungkan harapanku pada takdir Ilahi, karena jika bergantung pada fakta selama tes tulis, aku tidak akan punya harapan. Biarlah kemarin aku merasa hancur berantakan, tapi jika aku ditakdirkan untuk lolos, aku akan lolos.
Tugasku sudah selesai, sisanya Allah yang urus.
Semesta ini saja kecil bagi Allah, apalagi impianku.
Kupercayakan seluruhnya kepada-Mu.
⧭⧭⧭
29 Juli 2022, hari pengumuman.
Kubuka file yang ada di laman website mereka. Dari 114 peserta yang mengikuti ujian, hanya 14 orang yang lolos.
Hanya 14 orang?
Aku diam, jantungku beredegup kencang, kuletakkan ponselku.
Kupejamkan mata sambil mengelus dada, gapapa, ikhlas, kuliah di sini juga
gapapa. Harus ikhlas, bismillah ini yang terbaik, harus ikhlas.
Setelah merasa lebih tenang, kulihat lagi file pengumuman,
mencari apakah nomor Hendy ada di sana. Bukan nomorku yang aku cari, karena
tanpa harus melihat pengumuman pun, aku tahu aku tidak mungkin ada di 14
peserta hebat itu, aku sudah ikhlas.
Saat sedang mencari nomor Hendy, aku melihat nomor yang nampak tidak asing, seperti sering melihat nomor tersebut, GJ1161.
Aku cek arsip email
pendaftaran, HEI ITU NOMOR UJIANKU! AKU LOLOS! AKU TERMASUK 14 PESERTA ITU!
Badanku gemetar, hatiku meledak-ledak, astagfirullahaladzim aku berusaha menenangkan diri.
Tangisku pecah, air mata mengucur deras.
Allah masih mengizinkan aku untuk melangkah, aku yang tidak bisa apa-apa ini
masih Allah izinkan berjalan. Alhamdulillahi Rabbil’alamin.
Untaian doa terus kulantunkan,
Ya Allah hamba percaya bahwa Engkau sudah menetapkan
takdir manusia 50.000 tahun sebelum alam semesta diciptakan. Maka dari itu tak
ada guna manusia merasa khawatir, alhamdulillah terima kasih sudah mengizinkan
hamba berjalan sejauh ini, dan maafkan hamba yang selalu mengkhawatirkan ketetapan-Mu.
Masih banyak tahapan yang harus dilalui, dan hamba serahkan semuanya kepada-Mu, berikanlah hamba yang terbaik dari sisi-Mu, apapun yang menurut-Mu baik untuk hamba. Jika keputusan-Mu adalah sesuatu yang menyenangkan hati hamba, maka limpahkanlah rasa syukur agar hamba tidak menjadi manusia yang takabur.
Namun jika keputusan-Mu bukanlah sesuatu yang hamba inginkan, maka lapangkanlah dada hamba dan tanamkan rasa ikhlas yang luar biasa ke dalamnya, agar hamba bisa menerima segala keputusan-Mu dengan bijaksana.
Dan apapun keputusan-Mu nanti, jalan manapun yang Engkau pilihkan untuk hamba nanti, jadikanlah jalan itu jalan
yang menuntun hamba semakin dekat dengan-Mu. Aamiin ya Rabbal Aalamiin.
⧭⧭⧭
Tahap demi tahap kulalui dengan lebih lancar, meskipun banyak hambatan, tapi semuanya bisa dilalui dengan baik. Tes wawancara, persiapan ulang dokumen untuk secondary screening, medical check up, dan lain sebagainya.
Rasanya aku ingin
menceritakan setiap detail proses seleksi, namun entah seberapa banyak lagi yang
harus ku tulis di sini.
Intinya aku bersyukur dan bahagia, dengan semua ujian yang
ada, kesulitan yang Allah hadirkan, aku bahagia. Ujian nyata maupun perasaan,
semuanya digantikan oleh kebahagiaan yang tiada tara.
Ya, setelah melewati ujian nyata, kini datang ujian
perasaan.
Masih segar dalam ingatanku di bulan Agustus 2022, sebulan pasca off aku harus mulai kembali bekerja.
Di bulan itu aku kehilangan seorang
sahabat karib, kolega terbaik, support system terhebat. Orang yang
selalu menemaniku ke manapun aku pergi, sama-sama saling menyesuaikan jadwal pekerjaan agar
bisa shalat tepat waktu bersama, tak segan membelaku di depan orang lain, orang
yang tak pernah aku sangka karena kepergiannya, pergi pula kebahagiaanku dari
sana.
Beban kerja yang secara fisik jauh berkurang tapi entah
kenapa justru malah terasa berat, padahal dulu saat ia ada aku mampu
mengerjakan semuanya dengan hati riang, tapi setelah dia pergi, hanya ada rasa
lelah, bahkan untuk pekerjaan ringan sekalipun.
Seringkali aku menangis sebelum melangkahkan kaki untuk bekerja, memohon pada Sang Maha Kuasa agar fase ini di-skip saja.
Tapi Allah
pernah berkata:
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
For indeed, with hardship (will be) ease.
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
Tidak ada satu huruf pun yang salah dalam Al-Quran, apalagi 1 ayat, apalagi 2 ayat.
Selalu meyakinkan diri bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan
adalah caraku untuk bertahan.
اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
Ayat yang terus menerus aku tanam dalam pikiran.
Dan alhamdulillah semuanya terbayarkan.
Janji Allah nyata adanya, bulan Desember 2022 di penghujung tahun aku mendapati nomorku berada di deretan daftar peserta yang lolos tahap akhir.
Menjadi penerima beasiswa MEXT Scholarship program KOSEN 2023.
Tak ada untaian kata yang mampu menggambarkan betapa bersyukurnya aku bisa Allah izinkan berada di titik ini, tak terkira betapa indahnya proses seleksi ini bagi diriku. Banyak hikmah, pelajaran, dan keajaiban yang satu per satu Allah hadirkan.
Alhamdulillah.
Aku harap jalan yang aku tempuh nanti dipenuhi keberkahan dan dapat memberikan manfaat untuk orang banyak, agar menjadi jalan yang mampu mengantarkanku menjadi hamba yang lebih dekat dengan Sang Pencipta, menjadi khalifah yang Ia cinta.
Aamiin.
⧭⧭⧭
Akhir kata aku ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang
sudah turut andil dalam perjalanan ini, baik yang secara langsung turut
membantu, ataupun yang diam-diam selalu mendoakan kebaikan untukku. Jazakallah
khairan, tak ada balasan yang mampu aku berikan, tapi semoga segala kebaikan
dan keikhlasan itu Allah balas dengan sebaik-baiknya balasan, aamiin ya Rabbal‘alamin.
Untuk rekan-rekan atau para pembaca yang ingin bertanya langsung perihal program beasiswa ini, feel free to reach me out through my instagram dm @shaharanitp or email: shaharani.posofare@gmail.com
Wassalamualaikum wr.wb. <3

Komentar
Posting Komentar